Jumat, 08 Oktober 2010

Semangat Ramadhan "Saling Menjaga"

Empat Ramadhan

Kita mulai dengan pertanyaan..
Mengapa kita harus memakai helm..? Mengapa ada aturan untuk memakai seatbelt..? Mengapa dipasang lampu lalu lintas di simpang jalan..? Mengapa banyak rambu-rambu lalulintas..? Mengapa.. dan banyak lagi pertanyaan mengapa yang bisa kita tanyakan, demi menjawab semua hal yang membuat kita merasa terbebani dengan kewajiban-kewajiban yang mesti kita penuhi itu. Hmm.. kewajiban..?? kira-kira, berdosa nggak ya, kalau ga pakai helm.. (Mmm.. bisa banyak nih jawabannya) Monggo yang berkompeten untuk menjawab. Pak polisi, polwan, ustadz, ustadzah, para faqihin. ^_^

Peraturan-peraturan semacam itu, tentu tidak dibuat sekejap, seperti main sulap. Tring..!! Pakai helm. Tring..!! Pakai seatbelt. Tring..!! Lampu lalu lintas. Hohoho.. Namun, semuanya sudah dirancang sedemikian rupa demi tujuan-tujuan umum dan khusus tentunya. Jika hendak diambil tujuannya secara umum adalah, sebuah perhatian terhadap para pengendara, satu bentuk penghargaan terhadap jiwa, aturan yang dibuat demi menjaga setiap pengendara dari hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti, kecelakaan yang fatal misalnya.

Toh, masih saja ada, yang naik motor tanpa helm, yang paling sering nih ya, kalau hari jum’at tu, adalah hari tanpa helm se-indonesia. Mau Jum’atan, tidak merasa perlu untuk memakai helm. (tapi, masih ada yang pakai kok) Jika peraturan dibuat untuk menjaga pengendara dan melindungi mereka dari fatalnya akibat kecelakaan, maka ternyata banyak di antara kita yang dirinya sendiri, tidak merasa perlu untuk menjaga keselamatannya serta tidak merasa harus untuk menghargai nyawanya.

Bercermin dari pembukaan yang cukup panjang di atas itu.

Bahwa perempuan, kehidupannya seperti barang elektronik. Telah disertakan bersamanya, buku petunjuk-petunjuk. Bagaimana caranya, agar suaranya bening, gambarnya jernih. Langkah-langkah apa yang mesti dilakukan, jika ia mengalami gangguan, berapa tahunkah garansinya. (kalau wanita, mungkin garansi seumur hidup ya) Tapi, begitulah.. petunjuk-petunjuk itu dikeluarkan sebagai bentuk perlindungan dan penjagaannya untuk tetap dalam keadaan cantik, bagus dan sesuai dengan yang diharapkan.

Masalahnya adalah, tak semua perempuan mau dilindungi. Tidak semua muslimah, berkenan untuk diatur dan tidak semua tulang rusuk ini, mau diluruskan, serta tak banyak yang bersedia dengan rela menjadi hamba yang ta’at. Ketika petunjuk hidupnya menyuruhnya menutup aurat. Malah sebagian mereka dengan senang hati menjadi bahan tontonan. Sedihnya lagi, ini dikonsumsi oleh mereka yang seharusnya menjadi pelindung perempuan-perempuan muslimah ini. Yaitu, para lelaki yang di antaranya adalah muslim. Mereka mungkin tidak berpikir tentang siapa itu perempuan. Perempuan adalah, siapa yang mereka sebut, ibu. Perempuan adalah, seseorang yang mereka sebut istri. Perempuan adalah, mereka yang di sebut adik, kakak, bibi, bude dan perempuan adalah sebagian dari keluarga mereka. Jika saja mereka tempatkan perempuan adalah perempuan yang seharusnya, maka tentu hal ini tidak akan terjadi. Perempuannya, menghargai dirinya sendiri. Lelakinya, ikut menghargai perempuannya. Toh nyaman, aman, sedap dirasakan, tidak menyedihkan, jauh dari kejadian mengerikan.

Tentu kita tau, masalah apa yang terjadi karena hal mengumbar aurat ini. Selingkuh, bisa berawal dari hal ini. Perlakuan tidak senonoh, bisa muncul dari hal ini pula. Kejadian kecil ataupun besar yang terjadi antara perempuan dan laki-laki, sangat mungkin akan berawal dari masalah ini. Menutup aurat.

Baca kisah pendekku ini..

Sungguh.. hari ini, aku tersanjung. Kala ashar tiba, kami sedang bersiap memakai mukena. Hijab yang terpasang untuk shaf perempuan, hanya ada di bagian depan. Sehingga, dari bagian samping yang terbuka, jika para lelaki melaluinya, maka tampaklah kami. Dan seorang lelaki, melaluinya hingga tak sengaja memandang ke arah shaf kami, kemudian ia menunduk dan menarik beberapa hijab untuk menutupi kami dari pandangannya. Lelaki luar biasa. Bila maksudnya untuk menjaga pandangannya, maka pandangannya selamat. Jika maksudnya untuk menjaga kami dari pandangannya, maka kami pun.. selamat. Sedangkan kami, sungguh tidak menyadarinya. Sekali lagi, aku tersanjung.

Begitulah saudariku.. begitulah saudaraku..

Tidakkah saudariku, kau lebih tersanjung, bila tak seorang lelakipun menatapmu. Kecuali telah halal antara kau dan lelaki itu. Tidakkan saudariku, kau lebih merasa terpuji, bila tak seorang lelakipun menyentuhmu. Kecuali lelaki tersebut adalah suamimu. Tidakkah saudariku, kau lebih merasa berharga, ketika tidak seorang lelakipun memuji kecantikanmu dengan penuh rayu. Kecuali telah terikat jalinan suci antara lelaki itu dan dirimu. Tidakkah saudariku, kau ingin Pencipta-mu menatapmu dengan penuh kecintaan.

Tidakkah saudaraku, kau lebih gagah, bila yang kau pandang adalah yang halal bagimu. Tidakkah saudaraku, kau lebih hebat, bila yang kau sentuh adalah istrimu. Tidakkah saudaraku, kau sama dengan lelaki luar biasa itu, bila yang kau puji adalah siapa yang telah kau ikat dengan janji sucimu. Tidakkah saudaraku, kau ingin Pencipta-mu memelukmu dengan penuh kecintaan pula.

Perempuannya menjaga diri, hingga terjaga dari lelaki. Dan yang lelaki menjaga diri, hingga terjaga dari perempuan.

Menantilah dengan sabar.. hingga semuanya.. halal. 

1 komentar:

Achmad Alfansuri mengatakan...

Allahu akbar...

Posting Komentar

 
Copyright 2009 Fiani Gee. Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemescreator
Blogger Showcase