Senin, 04 Januari 2010

Menjadi Magnet

Apakah pernah, anda melihat magnet ? Entah, kekuatan macam apa, yang telah dikaruniakan Allah, padanya. Sehingga magnet, menjadi benda yang begitu ‘menarik’, bagi benda-benda lain, yang terbuat dari logam. Ada sih, magnet alam. Yang dari sononya, sudah memiliki kekuatan itu. Namun, ada juga magnet buatan. Benda-benda, yang memang mendapatkan stimulan, untuk dapat menjadi magnet.
Mencermati kekuatan magnet, sepertinya mengingatkan kita, pada beberapa individu, yang memiliki kekuatan yang sama. Yaitu, menjadi begitu menarik, bagi orang lain. Kadang-kadang menjadikan kita bertanya-tanya. Apa yang membuatnya bisa begitu menarik ? Kata-katanya ? Sifatnya ? Atau penampilannya ? Itu, bagi mereka yang sudah menjadi magnet, dari sononya. Bagaimana dengan kita ? Yang menarik, juga kagak. Apakah, seperti magnet buatan ? Menjadi orang yang menarik, mungkin memang perlu usaha, seperti halnya merubah logam biasa, menjadi magnet. Pasti perlu !


Begitu pula menjadi pendidik. Bagi kita, yang telah ‘nyebur’ kekolam pendidikan, dan menjadi atlet utama dikolam ini, yaitu, menjadi guru. Tak diragukan lagi, mau tidak mau, kita harus memiliki unsur-unsur tertentu, yang membuat kita bisa jadi magnet. Yang begitu menarik, sehingga, membuat yang ada di sekitarnya, menjadi demikian dekat dan lengket. Magnet, mungkin dapat menarik benda-benda logam, meskipun si magnet dalam keadaan diam. Namun, tidak demikian halnya, dengan pendidik. Pendidik akan menghadapi benda hidup, manusia. Yang harus disentuh perasaannya, dibangkitkan minatnya, dan dimotivasi geraknya. Ya. Murid-murid kita adalah manusia. Dan satu-satunya cara, untuk membuat mereka tertarik, adalah mengeluarkan seluruh potensi yang ada pada diri kita, sebagai manusia. Mau tidak ? Kalau jawaban anda ‘tidak mau’, maka segeralah keluar dari kolam ini. Karena kolam ini, hanya dapat di isi, oleh orang-orang yang mau mengerahkan setiap potensi, yang ada pada dirinya.

Sebaiknya anda sudah siap, untuk menerima ilmu ‘magnetis’ ini. Sebelum meneruskannya, terlebih dahulu, hiruplah udara sedalam-dalamnya, dalam sepuluh hitungan. Kemudian, tahan, dalam sepuluh hitungan. Dan, lepaskan, dalam lima hitungan. He he. Agak sesak, ya. Itu salah satu cara menjaga kesehatan anda, sebagai pendidik.

Oke ! Potensi pertama yang kita miliki, adalah, ruh.
Bayangkan. . , kita ingin mengenalkan kasih sayang, pada murid-murid kita. Tapi, ruh kasih sayang itu sendiri, belum kita miliki. Suatu kali, betapa kita ingin, menjadikan anak-anak kita disiplin. Namun, ruh disiplin, tidak terpatri secara benar, dalam diri kita. Dan hasilnya, saat kita bicara tentang kasih sayang, tanpa ruhnya. Apakah ada, murid yang mendengarkan. Yo, mbak yu. Sekedar mendengarkan saja, mereka sudah bersikap cuek. Tak akan pernah sampai, masa bagi mereka untuk mengamalkan, apa yang pernah kita bicarakan pada mereka. (Hei, anda telah melewati kata, pada) (???) Bingung, kan. Seorang pendidik, akan kehilangan kekuatan magnetisnya, jika merasa, dirinya paling tau. Dan, pendidik dengan tipe ini, tidak lagi memiliki ruh menghargai. Ruh menghargai, yang akan menimbulkan kekuatan magnetis pada diri kita, hanya akan terlihat dan terasa, jika kita tidak bicara ‘pada mereka’. Namun. ., bicaralah ‘dengan mereka’. Bagaimana kita, tidak sekedar berbicara,. Namun, mendiskusikannya dengan murid-murid. Sebenarnya, ini baru sekian persen, dari potensi ruh. Karena, ruh yang baik, akan mempengaruhi setiap kata kita menjadi ‘kaulan tsakiilaa’. Yang mampu mempengaruhi, siapapun yang mendengarkan. Karenanya, nyok, kite baikin ruh kite. Soalnye, untuk ngebagian cahaye, ke orang laen, seenggak-enggaknye, kite bise jadi lilin kecil, nyang siap ngebagiin cahaye buat dunie. Oke !

Akal, adalah potensi kedua, yang kita miliki.
Benda-benda dari logam, mungkin tidak akan pernah punya rasa bosan, terhadap si magnet. Tapi murid kita ? Tetaplah ingat selalu. Bahwa, mereka adalah manusia. Yang harus disentuh, perasaannya. Di bangkitkan minatnya. Dan Di motivasi, geraknya. Tentu saja, mereka punya rasa bosan. Trus ? Yok opo, rek ? Apa yang harus kita lakukan. . . Oh, jangan biarkan dia merasa bosan pada diri kita. . *simpuh mode on* Gunakan akal. Berfikirlah. Apa yang membuat mereka bosan ? Pernahkah terfikir, untuk membuat jendela rendah, pada ruang kelas kita? Agar anak-anak bisa memandang keluar, dengan leluasa. Apa yeng terbayang di benak kita ? Mungkin ini yang terbayang. . ., ‘oh, tidak, si Zidan manjat jendela. Maasya Allah ! beberapa anak memanggil tukang balon. Innalillahi, si Ical buang sampah lewat jendela. Aaaaaaaaaaaaaaaa, aku capek teriak-teriak, mereka cuma merhatiin jendela.’ Kacau banget. Namun, coba bayangkan. . ., ‘dari jendela rendah itu, anak-anak bisa melihat perbaikan jalan. Siapa saja yang mengerjakan . Alat apa saja yang digunakan. Bagaimana mengerjakannya. Bagaimana hasil akhirnya.’ Bukankah lebih tenang ? Kita tidak panik, dan anak-anak dapat ilmu baru. Setidaknya, berfikirlah untuk menggunakan jendela, bukan hanya berfungsi sebagai tempat sirkulasi udara. Tapi, jadikan jendela multifungsi.
Ha ? (kok bengong sih) belum nyambung, ya. Hei, kita bukan hanya bicara tentang jendela, lho. Tapi, semua benda, sarana dan prasarana, bekas atau baru, jadikan semuanya memiliki multifungsi. Intinya adalah kreatif, kreatif, kreatif (he he, cool banget nggak sih, gaya gue). Teroboslah sebanyak mungkin zona tidak nyaman (seperti, persepsi jendela rendah, diatas). Dulu, mungkin kita gunakan sepatu, untuk sekedar
alas kaki. Sepatu akan terlihat nyaman, kalau dia berada dikaki, atau dirak sepatu. Bagaimana, jika dia didalam kelas. Dalam keranjang cucian, digunakan untuk belajar berhitung, mencari pasangan, melempar sebagai pengganti bola, mengenal warna, belajar simpul, mengidentifikasi, mengenal pemilik, atau anda punya saran lain ? Gimana ? Apakah seorang pendidik, dengan fikiran seperti ini, akan membuat muridnya bosan ? Tidak! Anak akan senantiasa menunggu ide baru kita. Akal kita, akan membuat kekuatan magnetis yang luar biasa. Kata-kata, mungkin bisa saja membuat orang lain tertarik. Tapi, kreatifitas akan membuat kita jadi lebih menarik. So, kite musti maksain diri, buat mikirin nyang baru-baru. Soalnye, kite sendiri udeh bosen ame nyang lame-lame.

Pasti udah tau kan. Potensi kita yang ketiga ? Ya, benar. Potensi ketiga, adalah anggota tubuh. Gunakan wajah kita saat bercerita. Rubahlah mimik, bentuk bibir, gerak mata dan yang lainnya. Gunakan juga suara kita. Apakah suara Harimau, sama dengan suara Bebek ? Tidak, bukan. Gunakan juga gerak tubuh kita. Bagaimana gerakan seekor Rubah, yang sedang mengintai mangsanya, Jerapah, yang sedang menggapai daun, dipucuk pohon. Itu semua kan perlu gerakan. Jangan pernah ragu, untuk meng’eksploitasi’ tubuh, dalam rangka membuat mereka tertarik. Saat menjelaskan sesuatu, jangan hanya gunakan lisan saja. Namun, gunakan seluruh tubuh, untuk membahasakan isi dan menarik perhatian murid. Menarik bagi kita. Belum tentu menarik, buat anak murid. Jelas sekali, anak-anak akan merasa bosan dengan kegiatan ‘mendengar’. Setelah enam bulan mengajar, sudah berapa anak, yeng kehilangan ketertarikannya, pada cerita kita ? Amatilah. . .Jika kita masih terus menggunakan lisan untuk menjelaskan. Maka, kita pasti menemukan, semakin banyak anak, yang tidak mendengarkan. Dan kekuatan magnetis kita, semakin berkurang, dan tak berdaya. Jadi, nyok, kite ngegunain semue anggote tubuh kite, dengan sebaik-baiknye. Kagak ade lagi, nyang boleh bikin kite, jadi malu-malu bergerak, juge bersuare. Pokoknye, nyok kite nonton ondel-ondel.’ Ha ha ha.

Masih tidak bisa menjadi magnet ? Tetaplah berusaha. Karena, Allah tidak melihat hasil. Namun Allah senantiasa melihat apa saja yang kita kerjakan, untuk mencapai hasil tersebut. Bukankah kita berniat jadi magnet, agar bisa membawa murid-murid kita, pada cahaya cinta, dari islam. Dan contoh terbaik bagi seorang muslim, untuk menjadi magnet, adalah Rosululloh Muhammad. Beliaulah pemilik kekuatan magnetis, paling indah, sejagat raya. Bisa tidak, ya ?
Jawabannya : ‘INSYA ALLAH KITA BISA’

**Segenap kemampuan sudah semestinya, tercurah kedalam hari-hari itu. Karena, setiap hari, akan kita temui, ‘gelas-gelas kristal’ yang mungil. Yang sudah selayaknya diisi, dengan banyak kebaikan. Agar kelak, ‘gelas-gelas kristal’ itu, dapat mencurahkan isinya, bagi mereka yang dahaga, akan kebenaran.

SEO CONTEST... WIN AS A TEAM...

Kartu-Pulsaku.Com Solusi Bisnis Online Anda

4 komentar:

Penyo mengatakan...

salam kenal mbak intan...
wah.. saya lihat, mbak intan ini penggemarnya mas Budi Hadmajaya ya..?? kok dukungan terhadap mas Budi, sampai mati-matian.. he.he.he..

oh iya.. kalo comment di blog Sobat yang lain.. diisi kolom blognya mbak.. biar mendapatkan backlink.. diisi saja dengan URL blog mbak Intan

http://fianigee.blogspot.com/

dijamin ga eror mbak, sukses yaa....

Afiani Intan mengatakan...

Penggemar Budi...?? hahaha...

Hanya senang bisa membantu... We are tim... itu kata Budi... Lagian... ga da ruginya kok... cuma pasang link anchor ini... :)

Makasih atas ilmunya... Senang bisa mengunjungi blog-nya yang ruameeee.. hehehe...

Makasih dah mampir...

Fitri Blogging Lifestyle mengatakan...

Iya nech mas penyo... pacarnya mas budi iah mbak... sowly lho klu salah.. ternyata bukan hanya manusia yg bisa jadi magnet.. tapi juga kontes seo

Afiani Intan mengatakan...

Pacar...?? Waduuuh... Bisa sampai kesitu ya..?? hahaha...

Temen ja ini... ketemu di facebook only... guru yang sabar... ngajarin cara ngeblog biar ranking naik... hehehe... ga usah banyak2 ya nyebutin kebaikannya.. ntar dia Ge Er... ^^

Makasih ya para SEO'ers... dah mengunjungi my pinky blog... :)

Senang bisa mengenal kalian... I really do...

Posting Komentar

 
Copyright 2009 Fiani Gee. Powered by Blogger
Blogger Templates created by Deluxe Templates
Wordpress by Wpthemescreator
Blogger Showcase